Attention...!!!
Apabila link gak bisa dibuka, silakan klik pada Label yang tersedia yea...!!!

Evolusi Biologi

Tanpa ba-bi-bu dan berpanjang kata, kita "hajar" aja materi kita kali ini.

Evolusi biologi merupakan kelanjutan dari evolusi kimia. Sedangkan tahap-tahap terjadinya evolusi kimia secara teoritis dapat sobat pelajari di percobaan Stanley Miller. Sobat masih ingat kan penjabarannya?! Disini dan atau disini. Kalau sudah paham, kita lanjut nyok materi kali ini tentang evolusi biologi.

Evolusi biologi diawali di air, yaitu pada cekungan-cekungan di pantai.
Sejak terbentuknya bumi di atmosfer saat belum ada oksigen bebas. Suatu ketika terjadi reaksi kimia antara unsur-unsur kimia, seperti gas metana, hidrogen, amonia, dan uap air. Dengan adanya peristiwa halilintar menimbulkan adanya energi (aliran listrik) sehingga terbentuknya senyawa organik berupa asam amino. Hujan inilah yang membawa senyawa organik tersebut ke permuakaan bumi, bahkan ada yang jatuh hingga ke cekungan-cekungan pantai seperti yang dijelaskan di awal tadi. Senyawa organik itu kemudian bersama air berkumpul di cekungan-cekungan pantai karena pada cekungan pantai itu permukaannya lebih rendah (namanya juga cekungan bo'...(intermezzo dikit bolehlah...)).

Molekul-molekul organik tersebut kemudian bergabung membentuk makromolekul secara progresif akibat kondisi yang relatif kering dengan bantuan ATP (adenosin triposphate) dan enzim-enzim terjadilah percepatan reaksi, sehingga terbentuk membran struktural serta fibril internal (benang) sebagai bagian sel primitif (cikal-bakal sel).

Kemungkinan terbentuknya kehidupan pada tahap pertama sekali, pada tahap awal berupa protovirus sebagai sel awal yang masih sangat sederhana (sel primitif). Mahluk hidup pertama bersifat heterotrof dan di sekitarnya terdapat bahan organik yang berasal dari hasil reaksi kimia.

Untuk lebih jelasnya tahap-tahap evolusi dapat dijelaskan sebagai berikut.

Tahap 1
Pada awal mula terbentuknya bumi, pada saat itu atmosfer sedikit sekali mengandung O2 dan CO2. Molekul-molekul yang terdapat di atmosfer purba saat itu antara lain: CH4, NH3, H2, dan H2O. Dengan bantuan energi yang berasal dari ruang angkasa di luar bumi, molekul-molekul tersebut saling bereaksi sehingga terbentuk persenyawaan organik kompleks.

Tahap 2
Pada tahap ini terjadi evolusi organik. Senyawa organik yang telah terbentuk dari reaksi kimia dengan bantuan energi tersebut di atas terbawa oleh air hujan hingga jatuh di permukaan bumi. Pada permukaan bumi di dataran rendah secara terus menerus air terkumpul menjadi banyak sehingga terjadi lautan yang mengandung zat organik. Dalam waktu yang relatif lama sekali terjadilah evolusi organik dan terbentuklah mahluk hidup. Mahluk hidup memerlukan sumber energi dan energi dapat diperoleh melalui peristiwa fermentasi dengan menghasilkan CO2.

Tahap 3
Adanya CO2 memberi kesempatan organisme heterotrof untuk menggunakan CO2 untuk keperluan fotosintesis. Agar dapat terjadi sintesis (pembentukan), di sini terjadi perubahan fungsional. Pada fotosintesis dihasilkan oksigen (O2). Dengan demikian di atmosfer semakin lama semakin banyak mengandung O2.

Tahap 4
Pada saat atmosfer makin banyak mengandung Oksigen, maka akan memberi kesempatan bagi mahluk yang memerlukan (menggunakan) oksigen. Mahluk yang muncul dengan menggunakan oksigen dikenal sebagai mahluk aerobik.

Tahap 5
Dengan adanya mahluk autotrof (aerobik) yang menggunakan oksigen selanjutnya akan memberi peluang timbulnya mahluk yang menggunakan zat organik yang disintesis oleh mahluk autotrof. Muncullah mahluk heterotrof. Mahluk yang terjadi dari hasil evolusi mahluk autotrof inilah yang terus berkembang hingga sekarang ini.

Semoga materi ini bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai panduan belajar biologi.


0 comments:

Post a Comment

Kita jalin Silaturrahim dengan mengisi kotak komentar di bawah ini meskipun sepatah dua patah kata...!!!